Cerpen terbaru: Mistery of Number 24

by 8:53 AM 0 comments


Daun- daun yang mulai berguguran. Padi di sekelilingku yang terus menari. Sorakan orang-orang tak berdosa yang terus menghantuiku. Sejuta tatapan bola mata bulat yang menemaniku. Hati yang seakan hampir lepas. Membuatku terus terbawa dalam kondisi ini. Hanya lorekan bola hitam putih yang kupegang.  Tak ada lagi Ibu atau ayahku yang selalu menenangkanku di semua waktu. Tak ada lagi pelukan hangat yang merangkulku. Besi putih persegi panjang inilah yang akan kuhadapi, dengan jaring bersih yang seakan belum tersentuh lumpur.  Aroma ketegangan semua rekanku juga sudah tercium disini. Kiper lawanpun terus memasang mata tajamnya yang agak sedikit melirik ke arahku.
Kutaruh bolaku di rumput hijau tak bernyawa ini.  Memandangi berbagai sudut besi. Kuambil jarak 5 meter dari teman bulatku ini, tanpa maksud meninggalkannya. Dengan sepatu kusam yang kukenakan, Kaki ini membawaku menuju bulatan Hitam putih itu. Kusentuh bola dengan setengah kakiku, dan bola menuju gawang dengan kecepatan tinggi. Namun, ada hal yang sedikit aneh dari pertandingan kali ini.
Namaku Havid Adhitama, 15 tahun, dan sekarang bersekolah di MAN 2 Banjarnegara. Hidup di sebuah Rumah tua warisan kakek nenek dengan Orang tuaku. Hari-hari selalu kujalani dengan bola hitam putihku ini. Latihan selama 8 tahun belum bisa membuatku bosan disampingnya. Tempat latihan bolaku yang tidak jauh mungkin penyebabnya. Lahir di lingkungan keluarga yang tidak menyukai Bola tetap tak mematahkan semangatku akan Permainan Bola ini. Untunglah di sekolah baruku ini ada Liga sepakbola, yang mungkin akan menjadi pembuktian latihanku selama ini. Banyak yang bilang anak IPA itu gak jago Main bola, dan selalu jadi juru kunci di Grupnya. Mungkin karena anak IPA itu terlalu banyak belajar, sampai gak pernah ngurusin permainan Bola seperti ini. Tapi, sepertinya hal itu takkan terjadi pada klubku. Gabungan antara IPA 3 dan 4, akan menjadikan klubku sebagai sang juara.
Di ligos kali ini, aku memakai nomor 24 sebagai tanda pengenal tak bernama. Nomor ini yang selalu kusandarkan di balik kaos tim. Entah mengapa nomor ini selalu menjadi pilihan utamaku. Memang aku tak pernah memenangkan suatu kompetisipun dengan nomor punggung ini. Tapi kuyakin, hal itu takkan terjadi lagi. Hal ini bisa kubuktikan dengan masuknya timku dalam Final pertandingan Ligos ini. Dan final itu terjadi pada Hari ini.
Mandi menjadi kegiatan awalku untuk memulai hari besar ini. Fisik juga Rohani sudah di persiapkan secara matang sebagai penunjang penampilan nantinya. Perjalanku menuju pertandingan ini memang tak mudah. Tak mengherankan jika juara 1 merupakan keharusan untuk kucapai. Berangkat sebelum bel sekolah dilantunkan sudah menjadi kewajibanku. Walaupun pertandingan ini dimulai setelah pelajaran Selesai, tapi apa salahnya untuk memepersiapkannya sejak awal.
Matahari sudah pada titik puncaknya, Bel sekolah di syiarkan dengan merdunya yang seakan hanya tertuju padaku. Tubuh ini langsung saja membawaku menuju tempat puncak atas semua hal yang pernah kulakukan saat ini. Puncak sebagai pembuktian atas semua kerja kerasku. Stadion besar terpampang jelas dihadapanku. Tanpa ada suruhan dari dalam tubuhku, kaki ini sudah membawaku ke dalam Stadion ini. Berjuta pasang mata mengelilingiku. Hadirnya Orang tuaku membuatku semangatku semakin menggebu-gebu.
Tak sadar, pertandingan hampir dimulai. Persiapan sudah ku terapkan dengan matang. Strategi jitu juga sudah ku sandarkan dengan tepat. Peluit di lantunkan, tanda awal kebahagiaanku dimulai. Posisiku sebagai pengatur serangan merupakan hal yang harus kuhadapi hari ini. Hingga tak lama sebelum peluit akhir babak pertama dilantunkan, kakiku sudah bisa mencetak satu gol bagi timku. Tepatnya di menit 24, atau satu menit sebelum babak bertama berakhir . dan Sayangnya, itu tak berjalan lama sampai akhir laga ini memiliki skor 2-2.
Adu pinalti terus memanggil diriku agar bisa mendatanginya. Ditunjuk sebagai penendang akhir tak membatku gentar menghadapinya. 3 penedang lawan bisa melakukan tugasnya dengan baik dan hanya 1 yang berhasil ditepis kiperku. Sementara dari timku hanya ada 2 pengeksekusi yang berhasil menuntaskan tugasnya. Hingga, tiba saatnya Aku utuk menghadapinya. Kutaruh bolaku di rumput hijau tak bernyawa ini.  Memandangi berbagai sudut besi. Kuambil jarak 5 meter dari teman bulatku ini, tanpa maksud meninggalkannya. Dengan sepatu kusam yang kukenakan, Kaki ini membawaku menuju bulatan Hitam putih itu. Kusentuh bola dengan setengah kakiku, dan bola menuju gawang dengan kecepatan tinggi. Menghujam bagian kanan kiper, tanpa bisa kiper itu menepisnya. dan Mungkin Dewi Fortuna belum datang padaku, Bola itu membentur gawang putih itu tanpa meninggalkan sedikit sayatan yang menyakitkan.
Semua usaha yang kulakukan selama ini menjadi sia-sia karena semua hal ini. Raut muka kecewa muncul dari semua rekan timku. Tak ada lagi trophy yang ku impikan selama ini. Juga dengan kekecewaan terus menghantuiku tanpa mengenal kata lelah. Memang masih ada rasa sedikit bangga dengan masuk ke pertandingan final. Tapi, kalah di pertandingan final lebih mengesankan rasa penyesalan yang lebih berat. Mungkin tahun depanlah semua keinginanku akan tercapai. Nothing is Impossible. Dan satu lagi, di akhir pertandingan ini timku kalah 2-4 dari lawan. Apakah maksud ini semua?

Created by: Muhammad Razin
Facebook: Muhammad Razin
Twitter: @muhammadrazin77
Instagram: @muhammadrazin77

Jeriken

Developer

Namaku Muhammad Razin - Kita disini untuk belajar bersama. Sharing tentang pelajaran bisa dilakukan disini. Belajarlah selagi bisa. Nothing is Impossible!

0 comments:

Post a Comment