Cerpen terbaru: Malaikat Tuhan

by 8:50 PM 0 comments



Terik matahari sudah tampak dari bagian timur sana. Kuda roda duaku terus kupacu dengan kencangnya. Kubangan air jalan sudah tak bisa menghalangiku lagi. Lalu, kudengar ibu-ibu dengan kecepatan kilat yang terus membunyikan motornya dan dengan pangilan yang sedikit Mengejekku. Bulatan 2 roda di bawahku ini, membawaku semakin deras menembus angin dan membuat speedometer tak kuat lagi untuk menuliskan angkanya. Hingga tak lama kemudian, kulihat palangan polisi dengan baju kerjanya yang menghalagi jalananku. Memang ini adalah jam berangkat sekolah. Anak-anak berlalu lalang dengan santainya, seakan tak tahu bahwa gerbang sekolahku hampir ditutup.
Perjalanan terpotong lebih dari seperempat jam untuk membantu anak pembangun negara nantinya.  Memang ini hari yang cukup buruk bagiku. Berangkat sebelum ayam terbangun merupakan kebiasaanku untuk bisa menuju sekolah. Tapi entah mengapa kebiasaan itu terkikis secara perlahan seiring dengan bertambahnya jenjangku. Tak lama perjanan, lampu merah kembali nampak di depanku dengan lagak tegapnya yang tidak memperdulikanku. Sampai, seorang pengendara merah dengan motor maticnya datang ke sebelahku. Tidak lain, dia adalah ibu yag dari tadi mengejekku. Dia membuka sedikit jendela helmnya dan berkata padaku “ Mas, tadi HPmu jatuh di sebelah jembatan”.  Tanpa sempat ucapan terimakasih kulantunkan ,Tubuh ini langsung membawaku untuk berbalik arah. Di perjalanan, tak ada lagi anak-anak yang meyebrangi jalan untuk menutup jalanku. Mungkin, hal ini juga sudah terjadi di sekolahanku dan dengan pintu gerbang tuanya .
Jembatan kembali kuinjak walaupun tidak dengan 2 roda bulatku. Rerumputan merupakan tujuan utamaku. Pencarian kulakukan dengan sedikit membabi buta, dengan perasaan kesal, dan juga sedikit penyesalan. Itu adalah hp baruku yang baru saja diberikan sebagai hadiah ulang tahunku. Mungkin harus kucari sampai ke lubang cacing untuk bisa menemukannya. Rerumputan hijau ini selalu menjadi kuning saat aku melewatinya. Sampai akhirnya ada orang yang menegurku, untuk tidak mencabut semua tanaman itu. Pulang kerumah bukanlah hal yang baik lagi bagiku. Masih kuingat wajah ayahku dengan tatapan yang menusuk, kumis tebal, juga dengan badan kekarnya. Mungkin rumah kakekku merupakan satu-satunya pengaman terakhir hingga orang tuaku mengetahui kejadiannya.
Untunglah di rumah kakekku ini masih ada telepon tua yang sedikit berdebu. Panggilan tak henti-hentinya kujatuhkan pada hpku. Tapi, hanyalah jawaban dari seorang wanita pegawai operator yang kudengarkan. Sekolah tak lagi kupikirkan. Membolos memang tak pernah kulakukan sebelumnya. Tapi, bagaimapun ini adalah kondisi yang cukup genting. Walaupun ku masih punya segudang tabungan yang ku rawat dari kecil. Tapi kurasa itu masih belum cukup untuk menggantinya dengan yang baru.
Perlahan-lahan langit mulai runtuh untuk menyirami tanaman yang ada di bumi. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain berdiam dikamar dan melamun. Makan bukanlah hal yang mengenakkan lagi untuk kulakukan. Tak ada lagi HP disampingku membuat dunia ini seakan berhenti. Memang inilah penyakit yang banyak menghinggapi remaja masa kini. Bisingnya dering telepon tiba-tiba masuk ke gelendang telingaku. Entah siapa yang melaukan kegiatan itu, karena telepon itu hanyalah telepon tua yang tak pernah digunakan selama bertahun-tahun. Respon cepat kuberikan dengan langsung mengangkat gagangnya. Kudengar suara pria yang terus menyapaku dengan ucapan hallo. Suaranya besar dan bulat mengingatkanku untuk tidak mengangkatnya. Tapi entah mengapa tangan ini tak mau melepaskan gagangnya. Ku coba tuk ucapkan setitik kata padanya. Kemudian dari dalam telepon itu keluar suara yang mengatakan “Hallo, mas. Nih HP mas baru saja aku temukan. Mas posisinya dimana biar kuanterin Hpnya”. Tak ada kata yang bisa mengungkapkan keadaan ini. Langsung saja kutanya dimana orang itu berada dan kudatangi dia dengan Kuda bermesinku.

Rumah orang itu tak jauh dari kediamanku saat ini. Hingga tak sampai setengah hari ini berjalan, aku sudah berada di depan rumahnya. Tapi apa? yang kulihat disini hanyalah rumah tua dengan alang-alang sebagai atapnya. Mungkinkah aku sedang ditipu?. Tak lama kemudian datang seorang pemuda dengan kulit putih bersih, mata bulat, bulu jambang yang cukup banyak, juga dengan tubuh yang sedikit berisi. Dia menunjukan hp yang  baru ditemukannya kepadaku, “Apakah ini hp mas?” ucapnya dengan suara yang cukup besar. Hanya dua huruf yang bisa ku ucapkan kepadanya, juga dengan ucapan terimakasih sebagai lanjutannya. Setelah itu dia mengajakku untuk makan bersamanya. Memang aku menolak ajakannya, karena dengan HP ini saja kurasa itu semua telah cukup sebagai penggambaran kebaikannya. Ucapan terimakasih kembali ku lantunkan sebelum pulang. Ya Allah! Inikah malaikat yang kau turunkan untukku?

Created by: Muhammad Razin
Facebook: Muhammad Razin
Twitter: @muhammadrazin77
Instagram: @muhammadrazin77

Jeriken

Developer

Namaku Muhammad Razin - Kita disini untuk belajar bersama. Sharing tentang pelajaran bisa dilakukan disini. Belajarlah selagi bisa. Nothing is Impossible!

0 comments:

Post a Comment