Terik matahari sudah tampak dari
bagian timur sana. Kuda roda duaku terus kupacu dengan kencangnya. Kubangan air
jalan sudah tak bisa menghalangiku lagi. Lalu, kudengar ibu-ibu dengan
kecepatan kilat yang terus membunyikan motornya dan dengan pangilan yang sedikit
Mengejekku. Bulatan 2 roda di bawahku ini, membawaku semakin deras menembus
angin dan membuat speedometer tak kuat lagi untuk menuliskan angkanya. Hingga tak
lama kemudian, kulihat palangan polisi dengan baju kerjanya yang menghalagi
jalananku. Memang ini adalah jam berangkat sekolah. Anak-anak berlalu lalang
dengan santainya, seakan tak tahu bahwa gerbang sekolahku hampir ditutup.
Perjalanan terpotong lebih dari
seperempat jam untuk membantu anak pembangun negara nantinya. Memang ini hari yang cukup buruk bagiku.
Berangkat sebelum ayam terbangun merupakan kebiasaanku untuk bisa menuju
sekolah. Tapi entah mengapa kebiasaan itu terkikis secara perlahan seiring
dengan bertambahnya jenjangku. Tak lama perjanan, lampu merah kembali nampak di
depanku dengan lagak tegapnya yang tidak memperdulikanku. Sampai, seorang
pengendara merah dengan motor maticnya datang ke sebelahku. Tidak lain, dia
adalah ibu yag dari tadi mengejekku. Dia membuka sedikit jendela helmnya dan
berkata padaku “ Mas, tadi HPmu jatuh di sebelah jembatan”. Tanpa sempat ucapan terimakasih kulantunkan ,Tubuh
ini langsung membawaku untuk berbalik arah. Di perjalanan, tak ada lagi
anak-anak yang meyebrangi jalan untuk menutup jalanku. Mungkin, hal ini juga sudah
terjadi di sekolahanku dan dengan pintu gerbang tuanya .
Jembatan kembali kuinjak walaupun
tidak dengan 2 roda bulatku. Rerumputan merupakan tujuan utamaku. Pencarian
kulakukan dengan sedikit membabi buta, dengan perasaan kesal, dan juga sedikit
penyesalan. Itu adalah hp baruku yang baru saja diberikan sebagai hadiah ulang
tahunku. Mungkin harus kucari sampai ke lubang cacing untuk bisa menemukannya.
Rerumputan hijau ini selalu menjadi kuning saat aku melewatinya. Sampai
akhirnya ada orang yang menegurku, untuk tidak mencabut semua tanaman itu. Pulang
kerumah bukanlah hal yang baik lagi bagiku. Masih kuingat wajah ayahku dengan
tatapan yang menusuk, kumis tebal, juga dengan badan kekarnya. Mungkin rumah
kakekku merupakan satu-satunya pengaman terakhir hingga orang tuaku mengetahui
kejadiannya.
Untunglah di rumah kakekku ini
masih ada telepon tua yang sedikit berdebu. Panggilan tak henti-hentinya
kujatuhkan pada hpku. Tapi, hanyalah jawaban dari seorang wanita pegawai
operator yang kudengarkan. Sekolah tak lagi kupikirkan. Membolos memang tak
pernah kulakukan sebelumnya. Tapi, bagaimapun ini adalah kondisi yang cukup
genting. Walaupun ku masih punya segudang tabungan yang ku rawat dari kecil.
Tapi kurasa itu masih belum cukup untuk menggantinya dengan yang baru.
Perlahan-lahan langit mulai runtuh untuk menyirami tanaman
yang ada di bumi. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain berdiam dikamar dan
melamun. Makan bukanlah hal yang mengenakkan lagi untuk kulakukan. Tak ada lagi
HP disampingku membuat dunia ini seakan berhenti. Memang inilah penyakit yang
banyak menghinggapi remaja masa kini. Bisingnya dering telepon tiba-tiba masuk ke
gelendang telingaku. Entah siapa yang melaukan kegiatan itu, karena telepon itu
hanyalah telepon tua yang tak pernah digunakan selama bertahun-tahun. Respon
cepat kuberikan dengan langsung mengangkat gagangnya. Kudengar suara pria yang
terus menyapaku dengan ucapan hallo. Suaranya besar dan bulat mengingatkanku
untuk tidak mengangkatnya. Tapi entah mengapa tangan ini tak mau melepaskan
gagangnya. Ku coba tuk ucapkan setitik kata padanya. Kemudian dari dalam
telepon itu keluar suara yang mengatakan “Hallo, mas. Nih HP mas baru saja aku temukan.
Mas posisinya dimana biar kuanterin Hpnya”. Tak ada kata yang bisa
mengungkapkan keadaan ini. Langsung saja kutanya dimana orang itu berada dan
kudatangi dia dengan Kuda bermesinku.
Rumah orang itu tak jauh dari
kediamanku saat ini. Hingga tak sampai setengah hari ini berjalan, aku sudah
berada di depan rumahnya. Tapi apa? yang kulihat disini hanyalah rumah tua
dengan alang-alang sebagai atapnya. Mungkinkah aku sedang ditipu?. Tak lama
kemudian datang seorang pemuda dengan kulit putih bersih, mata bulat, bulu
jambang yang cukup banyak, juga dengan tubuh yang sedikit berisi. Dia menunjukan
hp yang baru ditemukannya kepadaku, “Apakah
ini hp mas?” ucapnya dengan suara yang cukup besar. Hanya dua huruf yang bisa ku
ucapkan kepadanya, juga dengan ucapan terimakasih sebagai lanjutannya. Setelah
itu dia mengajakku untuk makan bersamanya. Memang aku menolak ajakannya, karena
dengan HP ini saja kurasa itu semua telah cukup sebagai penggambaran
kebaikannya. Ucapan terimakasih kembali ku lantunkan sebelum pulang. Ya Allah! Inikah
malaikat yang kau turunkan untukku?
Created by: Muhammad Razin
Facebook: Muhammad Razin
Twitter: @muhammadrazin77
Instagram: @muhammadrazin77

0 comments:
Post a Comment