Bulan sudah berada pada titik terterangnya. Dentuman tembakan terus mendobrak-dobrak gelendang telingaku. Kedua jari di tangan dan kapas selalu menjadi temanku agar bisa tidur nyenyak. Setidaknya ini berlangsung sampai adikku tidak kecanduan main game itu lagi. Kecanduannya dimulai satu tahun yang lalu, saat aku mengajarinya bermain game yang sekarang menjadi musuhku itu. Memang dulunya game itu cukup mengasikkan. Dan, seharusnya malam ini aku harus tidur segera untuk menyiapkan hari penting besok. Besok adalah final pertandingan sepakbolaku. Keahlian bermain sepakbolaku memang sudah kuasah sejak kecil.
Cerahnya matahari tiba-tiba muncul dari sela-sela jendela kamar untuk membangunkanku. Kejadian semalam sama sekali tak kuingat lagi. Jam weker antikku menunjukan bahwa ¼ hari sudah berjalan. Memang sedikit rasa ngantuk masih menempel di pelupuk mataku. Tapi apa daya, hari ini ku harus persiapkan semuanya agar bisa mengikuti pertandingan itu. Mandi, merapikan kamar, makan, menjadi langkah utamaku di hari ini. Langkah kaki yang panjang dan cepat membawaku ke tempat persiapan pertandingan finalku. Memang jaraknya tak lebih dari 100m, tapi Kedisiplinan merupakan kunci nomor satu dari pengasuh sepakbolaku. Kata telat seakan sudah lenyap dari kamus kehidupannya.
Belum sampai kakiku menginjak rumput hijau, bunyi peluit sudah terdengar di dalam daun telingaku. Dengan langkah seribu, tubuhku bisa sampai di bangku pemain cadangan. Push-up 50 kali adalah hal yang pertama kulakukan. Terlalu sering terlambat membuatku sudah agak terbiasa dengan keadaan ini. Sebenarnya aku menjadi Line-up pada pertandingan kali ini. Namun, pelatihku selalu siap dengan pemain kedua di posisiku. Di bangku pemain cadangan, kulihat banyak tatapan tajam yang menghujam tubuhku. Duduk dipojok sendiri menjadi pilihan satu-satunya. Lalu, kudengar panggilan-panggilan yang masuk ke dalam gelandang telingaku. Yaitu panggilan pelatihku. Dia meyuruhku untuk menggantikan salah satu pemain dan bertugas sebagai pengatur serangan. Belum sampai penjelasan pelatih selesai, bunyi peluit akhir babak pertama sudah diluncurkan. Dibabak pertama ini, timku lebih unggul sedikit. Unggul 1 gol membuatku cukup tenang untuk main dibabak kedua nanti.
Pemanasan yang maximal tak henti-hentinya ku layunkan, demi penampilan yang maximal juga. HIngga, Peluit babak kedua kembali di lantunkan. Wajah yang berseri-seri nampak dari raut muka teman timku. Semangat yang membara muncul dari dalam tubuhku. Permainan yang cantik menjadi gaya awal permainanku. Tapi entah mengapa gawangku selalu dihujam dengan tendangan- tendangan mematikan di tiap detik yang berjalan. Untung masih ada kiper yang bisa kuandalkan. Lesatan dua gol kemudian tersarang di gawangku. Ini mungkin kondisi terburukku dalam permainan sepakbola. “Setelah belajar selama lebih dari 8 tahun, tapi ku tetap tak bisa merubah keadaan saat ini. Ku rasa semua yang aku pelajari selama ini tak ada gunanya. Mungkin inilah akhir dari Dunia bola yang selama ini kuarungi. Mungkin “
Gooooollll!!!!
Tiba-tiba tim kami memasukkan bola ke gawang lawan. Sungguh tak pernah ku duga selama ini, karena pencetak gol itu adalah teman dekatku. Memanglah, sebelum pertandingan dia sudah berjanji padaku untuk bisa memasukkan bola ke gawang lawan. Sang penepat janji dan juga seorang pahlawan membuat semangatku kembali membara dan wajah berseri-seri muncul di atas semua perasaan yang ada. Hingga tak lama kemudian peluit tanda berakhirnya pertandingan dikumdangkan kembali sebagai tanda akhir dari pertandingan ini. Adu penalti memanggil-manggil diriku untuk mendatanginya. Ku dipilih sebagai penendang kelima. Penalti pertama hingga ke 4 berjalan dengan lancar, begitupun dengan lawanku. Hingga pegeksekusi penalti ke-5 dari lawan juga mengeksekuisi dengan tepat. Hatiku berdebar kencang sampai akan terlepas, namun ku coba tuk tetap tenangkan diri. Antara Merdeka atau Mati kata pelatihku untuk menyebutnya. Ku ambil nafas yang dalam, kemudian memilih arah yang tepat untuknya. Kupilih sisi kanan, lalu kutendang. Kiper lawan menuju arah kiri dan bola melambung ke arah yang benar. Tetapi bola tersebut hanya mengenai mistar dari gawang tersebut, mungkin dewi fortuna belum memihak Padaku.
Penyesalan memang menerpa diriku tanpa hentinya. Tapi, ku punya arti lain atas perbuatanku tadi. Ku punya arti lain dari yang dikatakan pelatihku “Merdeka atau Mati”. Merdeka saat aku kalah dan Mati saat aku menang. Kenapa? Jawabannya akan kamu ketahui sendiri saat kamu ada di kondisiku.
Created by: Muhammad Razin
Facebook: Muhammad Razin
Twitter: @muhammadrazin77
Instagram: @muhammadrazin77

0 comments:
Post a Comment