Programmer adalah pekerjaan yang
agak sulit ditekuni dan hanya bisa dipahami beberapa orang saja. Jadi
programmer itu harus pandai – pandai mengolah otak pikirannya agar bisa membuat
sebuah program yang baik. Jadi programmer itu harus teliti, satu kesalahan aja
bisa bikin rusak semua script. Dan kebanyakan proggramer itu menghabiskan
banyak waktunya untuk menghadap teman setianya, yaitu Laptop. Tak mengherankan
bahwa banyak programmer itu Jomblo atau gak bisa nemuin pacar mereka. Ya so
pasti karena mereka terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk teman
mesinnya. Tapi, hal itu tidak terjadi
padaku. Karena bagiku anak programmer itu orangnya istimewa. So, aku percaya
gak ada hal yang bisa dilakukan Programmer.
Namaku Muhammad Hisyam Mursyid,
berumur 15 tahun, dan sudah lebih dari 2 tahun mengarungi Dunia programmer ini.
1/3 hariku kuhabiskan di depan teman bisuku ini. Kebiasaanku ini membuatku agak
diasingkan dari teman-teman sekolahku dulu. Dianggap anak aneh, pendiam, dan
lain-lain tetap tak membuatku patah semangat menekuni hobiku ini. Kurasa
laptopku ini adalah teman sejatiku. karena, Saat diluar aku di anggap orang
aneh. Namun, di dunia maya aku dianggap
sebagai The Master. Dengan semua hal yang kujalani, memang kurasakan gembira di
Hati. Namun, kurasa aku masih membutuhkan sesuatu yang mengisi hati ini, yaitu
Cinta.
Sekarang aku bersekolah di SMA
dan masih duduk di kelas 10. Beruntunglah, di sekolah baruku ini aku tak
diasingkan. Tapi aku tahu, itu takkan berjalan lama. Disini aku duduk
bersebelahan dengan seorang cewek bernama Sabrina. Dia adalah orang tercerdas
di kelasku, dan mungkin akan jadi saingan terberatku. Dia tak terlalu cantik, tapi
sangat perhatian padaku. Dia selalu memandangku dengan mata bulatnya tiap kali
aku melihatnya. Juga mengganguku dengan nada telponnya tiap malam yang selalu
ku jawab dengan si reporter di Tvku. Entah mengapa, dia masih saja menelponku
tiap malam. Walaupun malamku agak membosankan karena tiap hari berhadapan
dengan Layar perusak mata, tapi kurasa
malamku akan lebih membosankan jika aku mengangkat telponnya.
Hari- haripun berlalu dengan
sangat cepat. Dan Hari ini adalah hari pengujian belajarku selama setengah
semester atau yang biasa disebut dengan UTS. Di UTS ini bangku duduk di acak kembali,
sehingga aku bisa tenang dari si parasit itu. Dan mungkin tuhan mengabulkan
doaku semalam. Di UTS ini aku duduk dengan seorang wanita yang menurutku Sangat
– sangat berbeda dengan yang lainnya. Parasnya yang begitu menawan, tinggi,
putih, dan lainnya yang membuatku agak sedikit menaruh hati padanya. Dalam
benakku hanya terdapat dirinya, yang seolah menggugah hatiku agar bisa
mendapatkan dirinya.
Ulangan tiba-tiba berlalu dan waktu
istirahatpun tiba. Namun, dalam otakku masih saja terbawa dengan pesona wanita
itu, sampai- sampai aku tak dengar panggilan temanku yang sudah menunggu
berjam-jam yang lalu. Dialah teman baruku disini. Dia bukanlah anak yang
terlalu pintar, tapi di Ulangan dia selalu keluar paling awal. Silang indah
selalu dia pilih untuk menyelesaikan kertas penguji otak itu. Kehidupannya yang
menjadi PlayBoy memberiku sedikit kesempatan untuk belajar darinya. Mukanya memang tak setampan Boy William, tapi
entah mengapa banyak wanita yang terkagum-kagum padanya. Dia lalu memandangku
dengan muka agak sedikit kesal dan setitik kata keluar dari mulutnya “Lama” . “ Biasa lah” jawabku. Tanpa ada kata
isyarat lagi, kami berdua langsung menuju kantin untuk mengisi otak low batt ini. Aku menceritakan hal yang baru saja kutemui,
dan dia memberikan respons yang cukup bagus yaitu dengan memberikan setengah
keahliannya padaku.
Bulanpun datang lagi, seolah-olah
tak tahu apa yang baru saja kulewatkan tadi siang. Website selalu menemaniku
tiap malam, sebagai penambah keahlianku. Tapi entah mengapa, aku sedang malas
membukanya. Buku pelajaranpun masih belum dinodai oleh tanganku. Walaupun tubuh
ini terus memanggiliku untuk menuju ranjangnya, namun pikiranku masih terbawa
oleh si Wanita itu. Akupun tidur sampai terlarut-larut oleh dinginnya Malam.
Sinar kemerah-merahan yang
meroket dari ujung timur, membawa tubuhku untuk berdiri menatap serakan buku
dan barangku. Mandi, merapikan kamar, sudah menjadi kewjibanku. Dengan rasa
yang cukup senang, kakipun membawaku menuju ke sekolah. Duduk bersamanya
kembali merupakan hal yang paling kusukai sekarang. Dengan curi-curi
kesempatan, ku sering memandang wajahnya. Ya, begitulah yang kulakukan hingga
istirahat jam menjemput. Ibu kantin yang sudah menungguku dari tadi, kutinggalkan
sebentar untuk bertemu si wanita itu. Sekedar untuk mempraktekan sedikit tips
yang diberikan temanku kemarin. Cara bicaraku yang agak sedikit canggung
kepadanya, membuatku agak sedikit malu. Memang inilah cinta pertama yang
kurasakan, tapi walaupun begitu aku tetap mendapatkan nomor telephonenya.
Dengan kembali mempraktekan sedikit
tips dari temanku, aku menelponnya tiap malam tiba. Berbincang-bincang,
ngegombal menjadi hal yang tak asing lagi bagiku. Untung saja dia tak
menjadikanku seperti saat aku ditelpon oleh sabrina. Memang bukan hal yang
mudah untuk mendapatkan topik yang seru saat berbicara dengannya.
Malam-malamkupun berlalu seperti ini secara terus menerus, hingga tak terasa
sekarang ku makin dekat dengan dirinya. Dunia programmerpun lama- lama ku
lepaskan. Mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku
padanya.
Kupanggil seluruh teman kelasku
untuk membantu memberikan kejutan pada si wanita itu. Bunga, coklat, secarik
puisi yang sudah kuhafalkan semalam, sudah dipersiapkan secara matang. Aku
langsung menarik tangan wanita itu dan membawanya ke tengah Lapangan. Dan
kurasa latihan semalam berjalan sukses, tanpa ada sedikit kesalahan. Dia mau
menerima cintaku. Wow, ternyata beginilah rasanya cinta. Tak bisa diungkapkan
dengan kata, namun bisa dirasakan. Sungguh benar-benar karunia Allah yang
sangat luar biasa.
Namun, kebahagiaan ini tak bisa
kuarungi dalam waktu yang lama. Hanya satu bulan yang bisa kutempuh bersamanya.
Setidaknya aku pernah merasakan cinta anugrah tuhan ini. Sekarang ku kembali
menekuni Dunia programmer, untuk mengisi kekosongan hati ini. Tak ada lagi
wanita yang menempel dihatiku. Malamku pun kutempuh dengan hal yang agak
sedikit membosankan. Hingga tak lama setelah itu, ada sebuah telephone masuk
dari salah satu temanku. Tak dipungkiri lagi, dia adalah sabrina. Kucoba
mengangkat telephone itu untuk pertama kali. Dan hal yang agak berbeda
kurasakan. Ku merasa agak nyaman saat berbincang dengannya. Mungkinkah ini
cinta sejati yang diimpikan banyak orang?
Created by: Muhammad Razin
Facebook: Muhammad Razin
Twitter: @muhammadrazin77
Instagram: @muhammadrazin77

0 comments:
Post a Comment